Saturday, January 11, 2020

Majalah Angkringan (Mangkring)


JURNALISTIK
Anggota Kelompok:
1.      Resita Dina Artiningtyas     (A310160002)
2.      Delvia Anggita Pradana      (A310160035)
3.      Siwi Nur Islami                     (A310160037)
4.      Muji Muhammad Rasyiid   (A310160038)
5.      Tri Wahyuningsih                (A310160118)


Berita umum

ANGKRINGAN
Angkringan salah satu tempat makan sekaligus sering digunakan untuk nongkrong terutama oleh kaum laki-laki. Angkringan menyediakan berbagai makanan sederhana seperti nasi kucing, gorengan, es teh, susu jahe, dan banyak varian sate yang biasanya disebut dengan sundukan. Banyak orang yang menyebut angkringan dengan istilah HIK. HIK merupakan singkatan dari hidangan istimewa ala kampung / hidangan istemewa ala Klaten. Gerobak angkringan terbuat dari kayu dan depannya ditutupi terpal plastik dan buka mulai sore hari samapi dini hari. Dulu angkringan masih menggunkan penerangan senthir, namun semakin berkembangnya zaman penjual menggunkan penerangan lampu, karena dianggapnya lebih mudah dan efisen.
Angkringan atau HIK muncul pada tahun 1950-an, pertama kali di Bayat, Klaten. Dulu angkringan itu tidak menetap disatu tempat, namun berkeliling desa sambil memikul dan menjualkan dagangannya (makanan dan minuman). Sekarang angkringan sudah berubah lebih modern menggunakan grobak dan tempatnya sudah menetap. Angkringan menyajikan banyak makanan, akan tetapi makanan yang menjadi ciri khas di angkringan yaitu nasi (sego) kucing.   
Salah satu penjual angkringan dari Bayat yaitu Pak Pardi (52). Pak Pardi sejak usia muda sudah berjualan angkringan. Beliau hanya meneruskan usaha dari orang tuanya atau usaha turun temurun. Beliau tidak mengetahui secara detail tentang sejarah HIK/ angkringan. Pak Pardi hanya mendengar cerita dari mulut ke telinga, bahwa asal usul HIK dari daerah Bayat, Klaten.



ANGKRINGAN BAYAT

KLATEN- Pedagang angkringan menggantikan suaminya yang sedang sakit untuk mencari nafkah demi keluarga kecilnya. Wanita tersebut dipanggil dengan nama Nur Romelah (36). Beliau berasal dari Sendang, Ngerangan, Bayat, Klaten. Ia memiliki 2 orang putri yang mau membantu ibunya di angkringan. Usaha yang ia tekuni sudah cukup, yaitu sejak tahun 2006-sekarang. Angkringan buka pukul 09.00-22.00 WIB.
Nur Romelah beserta suami merintis usaha angringan pertama kali di Jogjakarta, kemudian karena peristiwa gempa, mereka kembali ke kampung halaman dan mulai membuka usahanya di Bayat. Ia menjual perhiasannya demi mendirikan angkringan bersama suaminya. Makanan yang dijual di angkringan Nur hasil produksi sendiri seperti nasi kucing, tusukan, ayam krispi, gorengan, dan kerupuk, untuk kerupuknya beliau beli kiloan kemudian dikemas sendiri. Beliau juga distributor ke tujuah angringan yang ada di sekitar Karangdowo, gantiwarna, Klaten, Bayat, Mbulu. Ia tidak menyewa tempat berjualan, pendapatannya digunakan untuk keperluan sehari-hari dan untuk biaya sekolah kedua putrinya. Omset yang didapat perhari Rp. 400.000,. kotor. Bersihnya beliau memperoleh Rp. 300.000., belum lagi setoran dari distributor. Di samping membuka angkringan, bu Nur juga memelihara sapi.




ANGKRINGAN

SURAKARTA- Seorang laki-laki penjual angkringan di Jl. Menco Raya Gg. XI Gonilan Kartasura Sukoharjo demi menghidupi keluarga kecilnya. Laki-laki tersebut bernama Catur Aryanto (31), ia menghidupi seorang istri dan dua putrinya yang masih kecil. Sudah 3 tahun lamanya ia berjualan di angkringan secara turun temurun dari keluarga besarnya. Angkringan mantap jiwa buka pada hari Senin- Sabtu, sedangankan hari Minggu libur.
Angkringan buka pukul 15.00- 00.00, karena keesokan harinya ia harus pergi ke pasar untuk berjualan kelontong membantu ibunya. Berjualan kelontong merupakan pekerjaan sampingan sedangkan pekerjaan utamanya berjualan di angkringan. Alasan Catur memilih berjualan angkringan sebagai pendapatan utama karena, lebih simple dan sebagai sumber ekonomi mata pencaharian untuk keluarga. Modal yang ia keluarkan untuk mendirikan angkringan yaitu 1 set gerobak dan minuman seperti: es teh, es jeruk, kopi, marimas dan lain-lain. Sedangkan untuk makanan Catur menerima titipan dari orang lain. Makanan yang berupa tusukan dan gorengan diambil dari budenya, karena budenya termasuk penyedia makanan di angkringan. Sedangkan seperti kerupuk, peyek, intip, kacang itu merupakan titipan orang lain.
Omset kotor Catur perhari bisa mencapai Rp 600.000,- sedangkan untuk omset bersihnya ia mendapatkan Rp 150.000,- 200.000,- perhari. Penghasilan tersebut sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Demi berjualan angkringan ia rela menyewa tempat seharga Rp. 500.000,- perbulan.





Berita Khusus
BAKUL WEDANG-WEDANGAN PASTI

SURAKARTA-Angkringan gaul ini didirikan oleh Fuan Nur S. (28) dan Agung I (40). Fuan bertempat tinggal di Gonilan RT. 01/RW. 01 sedangkan Agung bertempat tinggal di Singopuran Kartasura. Alasan Fuan dan Agung mendirikan wedangan ini karena suka nongkrong malam bersama teman-teman, dari hobinya tersebut maka muncul ide untuk mendirikan usaha angkringan gaul sendiri. Ia terinspirasi dari angkringan-angkringan yang ada di pinggir jalan.
Kini Fuan mengelola wedangan pasti seorang diri dan dibantu oleh karyawannya. karena Agung memilih berkarir sendiri menjadi presenter di TATV. Fuan juga mengelola ruko dan kos milik keluarganya. Fasilitas yang tersedia di wedangan pasti yakni tempat yang luas dan nyaman untuk nongkrong, tempat parkir yang cukup luas, tersedia juga mushola, toilet, dan live musik. Dulunya tersedia wifi seiring berjalannya waktu wifinya diputus, karena banyak pengujung berlama-lama hanya menikmati wifi. Sewaktu tersedia wifi pendapatan Fuan menurun. Setelah wifinya diputus kini penghasilanya meningkat. Menu yang tersedia di wedangan pasti yaitu macam-macam tusukan, roti bakar, pisang gorang, nasi kucing, susu jahe, kopi, dan masih banyak lagi. Menu favoritnya yaitu wedang jahe dan es carica, ada juga menu spesialnya wedang wedangan pasti. Wedang wedangan pasti ialah menu yang hanya ada di wedangan pasti. Bahan yang digunkan untuk membuat wedang wedangan pasti yakni air,  gula, rempah-rempah seperti jahe, kencur, sereh, jeruk, teh, dengan komposisi yang pas.
Omset yang didapatkan Rp 1.000.000,-  perhari kotornya, untuk penghasilan bersihnya pemilik tidak menyebutkan karena dianggap privasi. Penghasilan tersebut sangat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan cukup untuk menggaji karyawan-karyawannya. Selain mengelola angkringan Wedangan Pasti  Fuan juga mengelola ruko dan kos yang berlokasi di Gonilan.
PUIISI
Sepotong rasa angkringan pabelan
Sebuah tempat sederhana
diminati masyarakat setempat,
nuansa yang ada hanya remang-remang
berhiaskan lampu bergelangtungan

berselimut tenda
gerobak dengan ciri khasnya
tak pernah sepi dari keramaian
menu dijajarkan menjadi
hidangan utama

angkringan namanya..
HIK terkenalnya

Karya: Tim Mangkring

PANTUN
Jalan-jalan ke rumah pak camat
Buah semangka didalam karung
Jika kamu ingin hidup hemat
Makanlah di hidangan istimewa ala kampung

Kota Bogor kota hujan
Indonesia merdeka bulan Agustus
Bapak Sifaul emang tampan
Jangan segan-segan memberi nilai bagus

Karya: Rasyid


Denah Lokasi Angkringan sekitar UMS










No comments:

Post a Comment