Monday, January 13, 2020

Perjuangan Guru Mengajar di Daerah Terpencil Luar Jawa


Perjuangan Guru Mengajar di Daerah Terpencil Luar Jawa

Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak pulau. Di negara yang mempunyai banyak pulau terdapat daerah-daerah yang sulit dijangkau atau daerah terpencil. Daerah terpencil merupakan daerah yang jauh dari pusat kota atau pusat pemerintahan. Walaupun jauh dari pusat kota, pelayanan yang didapat masyarakat juga harus sama dengan yang didapat oleh masyarakat kota. Misalnya, pelayanan dibidang pendidikan. Pendidikan merupakan pembelajaran pengetahuan dan keterampilan. Masyarakat yang mendapatkan pelayanan pendidikan diharapkan mampu menguasai beberapa keterampilan guna menunjang masa depannya. Akan tetapi, didaerah terpencil sendiri pelayanan pendidikan ini masih kurang. Sehingga membuat masyarakatnya kurang pengetahuan daripada masyakarakat kota. Di lansir dari web Kompasiana mengatakan bahwa di Indonesia, untuk pelayanan pendidikan khususnya untuk daerah terpencil masih minim. Sehingga mengakibatkan banyak masyarakat yang belum mendapatkan ilmu pendidikan.
Dari situlah muncul berbagai generasi bangsa yang ingin mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa didaerah terpencil. Mereka terketuk hatinya setelah melihat bahwa masih banyak anak-anak didaerah terpencil yang belum bisa membaca dan menulis. Sangat disayangkan kalau anak-anak ini tidak dapat membaca dan menulis. Mau dibawa kemanakah negara Indonesia dimasa depan nanti ?. Di lansir dari Web Boombastis bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kalimat enam huruf ini mungkin pendek tetapi implementasinya sangatlah luas. Indonesia bisa dibilang tidak terlalu adil soal pendidikan. Maka kemudian muncullah para pahlawan tanpa tanda jasa alias guru agar pendidikan didaerah terpencil bisa setara dengan yang ada didaerah perkotaan. Akan tetapi, untuk membuat daerah terpencil ini maju tidak semudah yang kita pikirkan. Guru didaerah ini harus mau berpisah dengan anggota keluarganya, harus mau melewati jalan yang aksesnya itu sulit atau bahkan harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.
Kini sudah saatnya pemerintah negara Indonesia tahu bagaimana perjuangan guru yang mengajar didaerah terpencil, daerah yang sulit di akses, daerah yang jauh sekali dari hiruk pikuk perkotaan.
Berikut sebagian kecil dari perjuangan guru yang mengajar di daerah terpencil yang di lansir dari web Boombastis, antara lain:
1.      Cerita Guru Muda yang mengajar di Sumba Timur
Ervan adalah seorang guru muda asal Malang yang terketuk hatinya untuk mengajar di Pedalaman. Mengikuti program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah tertinggal atau daerah terpencil. Pria satu ini mendapatkan tempat mengajar di pedalaman Sumba Timur. Dari sinilah cerita perjuangan heroiknya dimulai. Ervan benar-benar harus berjuang banyak di SD Masehi Billa tempatnya mengajar. Ada bejibun tantangan yang harus dihadapinya. Ia harus hidup prihatin dengan menempati salah satu ruang perpus untuk tempat tinggalnya. Belum lagi ketika sakit ia harus menempuh perjalanan 6 jam untuk ke puskesmas. Apalagi yang paling menyesakkan ialah ia tidak bisa berkabar dengan sanak keluarganya lantaran tidak ada sinyal. Untung, Ervan ini adalah anak muda yang tangguh yang niatnya benar-benar tulus untuk mengabdikan dirinya di SD Masehi Billa ini.
2.      Cerita Miris Guru Bantu di Pedalaman Gorontalo
Apa jadinya jika seorang guru yang sukses mencerdaskan putra bangsa malah tidak mampu menyekolahkan anaknya sendiri ? Nasib ini dialami oleh seorang wanita yang bernama Sri Utami yang menjadi guru bantu di Boalemo, Gorontalo. Ya, menjadi guru bantu apalagi di daerah terpencil, ia pun tidak bisa berharap banyak pada gaji bulanannya. Bukan hanya tidak sanggup menyekolahkan sang anak, hidup Sri sendiri juga serba kekurangan. Namun begitu, satu hal yang membuatnya lebih kaya secara hakikat dari orang lain. Ya, semangatnya untuk menjadi guru di daerah tertinggal itu. Walaupun untuk menuju sekolah saja ia melewati dua bukit plus dua anak sungai pula. Sudah hampir 10 tahun ia menjadi guru bantu, namun nasibnya tak kunjung membaik. Harapan menjadi PNS pun sirna dengan umurnya yang sudah tidak muda lagi. Namun demikian, ia tetap ingin menjadikan murid didiknya lebih baik. Bahkan meskipun ia terenyuh melihat anaknya yang justru tak sekolah.

3.      Kisah Agustinus, Perjuangan Guru Tanpa Tunjangan
Melewati sungai mungkin bagi kita jadi hiburan unik dan asyik, namun bagi pria bernama Agustinus ini, hal tersebut adalah rutinitasnya sehari-hari. Ya, setiap hari ia harus melewati sungai yang airnya sangat deras itu untuk bisa mengajar di sekolah tercintanya di SDN 20 Landau Bunga, di daerah pedalam Melawi.Butuh setidaknya dua jam untuk pergi ke sekolah, termasuk melewati sungai deras tersebut. Tak Cuma itu saja tantangannya. Hidup Agustinus juga sebuah ujian tersendiri. Ya, sebagai guru di daerah pedalaman ia mendapatkan gaji yang sedikit sekali. Padahal barang-barang disana harganya mahal. Alhasil, ia harus hidup sangat bersahaja. Sempat ia mengandalkan janji tunjangan dari pemerintah, namun sampai kini tak terealisasi. Tak peduli lagi dengan janji pemerintah, ia pun tetap mengajar dengan hati. Demi anak didiknya agar bisa mendapatkan nasib yang lebih baik. Setidaknya mampu menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Itulah beberapa kisah perjuangan guru yang mengajar didaerah terpencil atau pedalaman. Sebenarnya masih banyak sekali kisah perjuangan guru yang rela mengabdikan diri nya untuk mengajar didaerah terpencil. Akan tetapi, mereka tidak terekspos oleh media sosial. Hati nurani mereka tergugah untuk mengabdikan diri serta ilmu yang sudah didapatkan demi mencerdaskan generasi bangsa. Dimana mereka harus rela diberikan gaji yang sedikit atau bahkan tidak digaji sepeserpun. Melihat lagi kisah diatas, data-data guru yang mengajar di luar jawa dengan daerah terpencil masih dibilang minim. Dimana satu sekolah itu guru nya tidak banyak dan harus mengajarkan semua mata pelajaran dengan jumlah siswa yang lumayan banyak atau bahkan sedikit.
Seperti halnya di daerah Belitung Timur tepatnya di SMK Muhammadiyah Belitung Timur ini jumlah gurunya masih sedikit. Gurunya berjumlah sekitar 8 guru dengan jumlah siswa sekitar 120 siswa yang terbagi menjadi 4 kelas. Membuat para guru harus mampu menguasai mata pelajaran lain. Perjuangan mereka tidak hanya sampai itu saja, mereka harus rela mengajar dengan kondisi sekolah yang terletak seperti ditengah hutan. Dimana lapangan untuk kegiatan sekolah masih berbentuk tanah. Letak gedungnya pun belum tertata rapi. Dimana letak ruang kelas dengan ruang guru harus melewati lapangan yang masih berbentuk tanah. Apalagi untuk menuju ke sekolah ini ditempuh dengan jarak kurang lebih 3km atau bahkan lebih. Sekolah ini belum teraspal, masih berbentuk tanah. Dimana kalau musim hujan kondisinya sangat licin karena masih berbentuk tanah. Data ini saya peroleh ketika mengikuti program dari kampus yakni program PLP II Terintegrasi KKN Dik Di Luar Jawa pada tanggal 23 Juli-26 Agustus 2019. Program ini menurut saya sangat bagus, karena bisa menambah pengalaman kita ketika mengajar dengan murid yang tidak seperti di Pulau Jawa. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa masih banyak sekali sekolah-sekolah di daerah terpencil masih kekurangan guru untuk mengajar. Menurut saya, menjadi guru itu tidaklah mudah. Dimana harus menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum mengajar, seperti membuat RPP, merencanakan pembelajaran yang inovasi dan masih banyak lagi. Pengalaman yang sangat tidak bisa dilupakan ketika saya harus menemupuh jarak 3km menuju ke sekolah dengan berjalan kaki. Ya, awal saya sampai di Belitung dan mendapatkan tempat sekolah yang jauh dari tempat yang ditinggali dan belum ada transportasi dari pihak kepala desa. Saya harus berjalan kaki menuju sekolah. Disini saya berpikir bahwa menjadi guru atau pahlawan tanda jasa ini tidak boleh mengeluh dengan keadaan yang sulit. Maka dari itu menjadi guru itu panggilan dari hati nurani setiap manusia. Waktu itu mengajakan saya banyak hal yang harus dilewati ketika harus berjalan kaki menuju sekolah, menjadi guru yang baik dihadapan siswa, dan yang tidak kalah penting harus selalu bersyukur dalam keadaan apapun.
Ternyata perjuangan guru itu tidaklah mudah. Banyak rintangan dan tantangan yang harus dilewati. Harus tetap ikhlas dalam menjalankan tugasnya sebagai guru dan juga harus tetap semangat untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Sosok guru yang satu ini yakni Ibu Eni selaku guru Bahasa Indonesia di SMK Muhammadiyah Belitung Timur ini sangat sabar dalam mengajar dikelas, selain itu ia juga sosok yang ramah terhadap siapapun. Perjuangan Ibu Eni ini sangatlah luar biasa, dimana pagi hari ia menjadi guru di SMK Muhammadiyah Beltim dan sore harinya masih harus menjadi guru les dirumah. Ia tidak kenal waktu untuk mencerdaskan anak didiknya. Ia pantas disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena perjuangannya yang begitu keras dalam hal pendidikan.
Tak hanya bu Eni saja yang berjuang demi mencerdaskan anak bangsa. Akan tetapi semua guru yang mengajar di SMK Muhammadiyah Belitung juga berjuang keras demi membawa perubahan anak didiknya. Mereka semua patut mendapat sebutan sebagai pahlawan tanda jasa. Berkat mereka kini layanan pendidikan untuk masyarakat dapat tersalurkan dengan baik. Murid-muridnya juga mempunyai karakter yang sopan dan santun. Tidak hanya itu pendidikan di SMK Muhammadiyah Belitung Timur sendiri juga mendapat kemajuan yang lebih baik. Ini dibuktikan dengan banyak prestasi yang telah diraih dalam satu tahun belakangan. Terbukti dengan mengikuti banyak perlombaan dan pulang membawa piala kemenangan. Berkat kerja keras bapak ibu guru dan para muridnya kini Smk Muhammadiyah Beltim sudah mulai merintis ke tahap sekolah yang lebih baik lagi.
Sekolah yang baru berdiri sekitar 2tahun ini kini sudah menorehkan banyak sekali prestasi dibidang akademik maupun non akademik. Seiring berkembangnya, pendidikan di daerah Beltim ini kini mulai membaik. Dibuktikan dengan adanya sekolah Smk Muhammadiyah Beltim yang sudah dibangun dan layanan pendidikannya mulai maju. Kini tinggal peran para guru nya yang harus tetap mempertahankan prestasi sekolah dan terus memberikan pendidikan yang lebih baik lagi. Kalau perlu pendidikan disana harus maju sesuai dengan peraturan pemerintah. Sehingga bisa bersaing dengan sekolah yang lainnya.
Menurut saya, kini pemerintahan di Indonesia harus memperhatikan lagi masalah pendidikan yang ada diluar jawa. Karena, pendidikan diluar jawa masih perlu bantuan untuk memajukannya. Butuh peran khusus dari pemerintah juga dari tenaga guru yang ada di Indonesia. Seharusnya mereka harus bahu-membahu untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik lagi didaerah terpencil luar jawa. Karena, ini merupakan kewajiban semua untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini. Tidak hanya memikirkan pendidikan didaerah yang lebih maju atau didaerah kota. Pikirkan juga mereka yang didaerah terpencil, karena mereka sangat ingin menerima ilmu dan bersekolah untuk mencapai cita-cita mereka. Begitulah kondisi pendidikan Indonesia yang ada diluar jawa. Kini seharusnya pihak pemerintah harus lebih mengawasi lagi dalam memberikan layanan pendidikan. Agar semuanya bisa mendapatkan pendidikan yang sama dan rata.
Selain itu, menurut saya pemerintah juga harus memberikan apresiasi kepada para pejuang pendidikan yakni kepada guru yang telah bersedia dalam mengabdikan dirinya untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik didaerah terpencil luar jawa. Berkat kerja keras mereka, kini anak-anak yang dahulu tidak mendapakan layanan pendidikan dengan baik karena tidak adanya guru sekarang mereka bisa merasakan bangku sekolah dan mendapatkan ilmu yang bisa bermanfaat untuk masa depannya kelak. Selain itu, pemerintah juga harus menyediakan tempat untuk menampung kritik saran dari pejuang pendidikan. Karena, mereka yang terjun ke dunia nyata. Dengan memberikan tempat untuk mengutarakan keluh kesah, kritik saran, dapat memberikan gambaran kepada lulusan-lulusan dibidang pendidikan untuk mau bekerjasama dalam membangun dan mencerdaskan anak didik didaerah terpencil luar jawa. Agar kedepannya sistem pendidikan di Indonesia lebih baik lagi dan mampu bersaing dengan negara lain.
Itulah sedikit gambaran perjuangan guru yang mengajar didaerah terpencil untuk membangun pendidikan yang baik dan mencerdaskan generasi-generasi penerus bangsa. Sepatutnya kita memberikan apresiasi atas jasa-jasa mereka yang rela berkorban demi anak didik bangsa menjadi generasi emas yang mampu bersaing dengan lainnya. Mereka juga rela berangkat pagi pulang sore dalam keadaan yang akses jalannya rusak, atau jalan kaki, hingga rela tidak dibayar atau bahkan dibayar dengan gaji yang tidak sesuai. Semua itu mereka lakukan untuk mengabdikan dirinya dengan negara dan tidak seharusnya kita merendahkan jasa-jasa mereka. Justru kita harus mengapresiasi jasa mereka. Karena mereka benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa.
Terima kasih bapak ibu guru J. Berkat perjuangan kalian, kini saya dan teman-teman saya dapat membaca, menulis dan menguasai keterampilan yang telah diberikan. Tak akan saya lupakan semua jasa bapak ibu guru J.


Saturday, January 11, 2020

Majalah Angkringan (Mangkring)


JURNALISTIK
Anggota Kelompok:
1.      Resita Dina Artiningtyas     (A310160002)
2.      Delvia Anggita Pradana      (A310160035)
3.      Siwi Nur Islami                     (A310160037)
4.      Muji Muhammad Rasyiid   (A310160038)
5.      Tri Wahyuningsih                (A310160118)


Berita umum

ANGKRINGAN
Angkringan salah satu tempat makan sekaligus sering digunakan untuk nongkrong terutama oleh kaum laki-laki. Angkringan menyediakan berbagai makanan sederhana seperti nasi kucing, gorengan, es teh, susu jahe, dan banyak varian sate yang biasanya disebut dengan sundukan. Banyak orang yang menyebut angkringan dengan istilah HIK. HIK merupakan singkatan dari hidangan istimewa ala kampung / hidangan istemewa ala Klaten. Gerobak angkringan terbuat dari kayu dan depannya ditutupi terpal plastik dan buka mulai sore hari samapi dini hari. Dulu angkringan masih menggunkan penerangan senthir, namun semakin berkembangnya zaman penjual menggunkan penerangan lampu, karena dianggapnya lebih mudah dan efisen.
Angkringan atau HIK muncul pada tahun 1950-an, pertama kali di Bayat, Klaten. Dulu angkringan itu tidak menetap disatu tempat, namun berkeliling desa sambil memikul dan menjualkan dagangannya (makanan dan minuman). Sekarang angkringan sudah berubah lebih modern menggunakan grobak dan tempatnya sudah menetap. Angkringan menyajikan banyak makanan, akan tetapi makanan yang menjadi ciri khas di angkringan yaitu nasi (sego) kucing.   
Salah satu penjual angkringan dari Bayat yaitu Pak Pardi (52). Pak Pardi sejak usia muda sudah berjualan angkringan. Beliau hanya meneruskan usaha dari orang tuanya atau usaha turun temurun. Beliau tidak mengetahui secara detail tentang sejarah HIK/ angkringan. Pak Pardi hanya mendengar cerita dari mulut ke telinga, bahwa asal usul HIK dari daerah Bayat, Klaten.



ANGKRINGAN BAYAT

KLATEN- Pedagang angkringan menggantikan suaminya yang sedang sakit untuk mencari nafkah demi keluarga kecilnya. Wanita tersebut dipanggil dengan nama Nur Romelah (36). Beliau berasal dari Sendang, Ngerangan, Bayat, Klaten. Ia memiliki 2 orang putri yang mau membantu ibunya di angkringan. Usaha yang ia tekuni sudah cukup, yaitu sejak tahun 2006-sekarang. Angkringan buka pukul 09.00-22.00 WIB.
Nur Romelah beserta suami merintis usaha angringan pertama kali di Jogjakarta, kemudian karena peristiwa gempa, mereka kembali ke kampung halaman dan mulai membuka usahanya di Bayat. Ia menjual perhiasannya demi mendirikan angkringan bersama suaminya. Makanan yang dijual di angkringan Nur hasil produksi sendiri seperti nasi kucing, tusukan, ayam krispi, gorengan, dan kerupuk, untuk kerupuknya beliau beli kiloan kemudian dikemas sendiri. Beliau juga distributor ke tujuah angringan yang ada di sekitar Karangdowo, gantiwarna, Klaten, Bayat, Mbulu. Ia tidak menyewa tempat berjualan, pendapatannya digunakan untuk keperluan sehari-hari dan untuk biaya sekolah kedua putrinya. Omset yang didapat perhari Rp. 400.000,. kotor. Bersihnya beliau memperoleh Rp. 300.000., belum lagi setoran dari distributor. Di samping membuka angkringan, bu Nur juga memelihara sapi.




ANGKRINGAN

SURAKARTA- Seorang laki-laki penjual angkringan di Jl. Menco Raya Gg. XI Gonilan Kartasura Sukoharjo demi menghidupi keluarga kecilnya. Laki-laki tersebut bernama Catur Aryanto (31), ia menghidupi seorang istri dan dua putrinya yang masih kecil. Sudah 3 tahun lamanya ia berjualan di angkringan secara turun temurun dari keluarga besarnya. Angkringan mantap jiwa buka pada hari Senin- Sabtu, sedangankan hari Minggu libur.
Angkringan buka pukul 15.00- 00.00, karena keesokan harinya ia harus pergi ke pasar untuk berjualan kelontong membantu ibunya. Berjualan kelontong merupakan pekerjaan sampingan sedangkan pekerjaan utamanya berjualan di angkringan. Alasan Catur memilih berjualan angkringan sebagai pendapatan utama karena, lebih simple dan sebagai sumber ekonomi mata pencaharian untuk keluarga. Modal yang ia keluarkan untuk mendirikan angkringan yaitu 1 set gerobak dan minuman seperti: es teh, es jeruk, kopi, marimas dan lain-lain. Sedangkan untuk makanan Catur menerima titipan dari orang lain. Makanan yang berupa tusukan dan gorengan diambil dari budenya, karena budenya termasuk penyedia makanan di angkringan. Sedangkan seperti kerupuk, peyek, intip, kacang itu merupakan titipan orang lain.
Omset kotor Catur perhari bisa mencapai Rp 600.000,- sedangkan untuk omset bersihnya ia mendapatkan Rp 150.000,- 200.000,- perhari. Penghasilan tersebut sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Demi berjualan angkringan ia rela menyewa tempat seharga Rp. 500.000,- perbulan.





Berita Khusus
BAKUL WEDANG-WEDANGAN PASTI

SURAKARTA-Angkringan gaul ini didirikan oleh Fuan Nur S. (28) dan Agung I (40). Fuan bertempat tinggal di Gonilan RT. 01/RW. 01 sedangkan Agung bertempat tinggal di Singopuran Kartasura. Alasan Fuan dan Agung mendirikan wedangan ini karena suka nongkrong malam bersama teman-teman, dari hobinya tersebut maka muncul ide untuk mendirikan usaha angkringan gaul sendiri. Ia terinspirasi dari angkringan-angkringan yang ada di pinggir jalan.
Kini Fuan mengelola wedangan pasti seorang diri dan dibantu oleh karyawannya. karena Agung memilih berkarir sendiri menjadi presenter di TATV. Fuan juga mengelola ruko dan kos milik keluarganya. Fasilitas yang tersedia di wedangan pasti yakni tempat yang luas dan nyaman untuk nongkrong, tempat parkir yang cukup luas, tersedia juga mushola, toilet, dan live musik. Dulunya tersedia wifi seiring berjalannya waktu wifinya diputus, karena banyak pengujung berlama-lama hanya menikmati wifi. Sewaktu tersedia wifi pendapatan Fuan menurun. Setelah wifinya diputus kini penghasilanya meningkat. Menu yang tersedia di wedangan pasti yaitu macam-macam tusukan, roti bakar, pisang gorang, nasi kucing, susu jahe, kopi, dan masih banyak lagi. Menu favoritnya yaitu wedang jahe dan es carica, ada juga menu spesialnya wedang wedangan pasti. Wedang wedangan pasti ialah menu yang hanya ada di wedangan pasti. Bahan yang digunkan untuk membuat wedang wedangan pasti yakni air,  gula, rempah-rempah seperti jahe, kencur, sereh, jeruk, teh, dengan komposisi yang pas.
Omset yang didapatkan Rp 1.000.000,-  perhari kotornya, untuk penghasilan bersihnya pemilik tidak menyebutkan karena dianggap privasi. Penghasilan tersebut sangat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan cukup untuk menggaji karyawan-karyawannya. Selain mengelola angkringan Wedangan Pasti  Fuan juga mengelola ruko dan kos yang berlokasi di Gonilan.
PUIISI
Sepotong rasa angkringan pabelan
Sebuah tempat sederhana
diminati masyarakat setempat,
nuansa yang ada hanya remang-remang
berhiaskan lampu bergelangtungan

berselimut tenda
gerobak dengan ciri khasnya
tak pernah sepi dari keramaian
menu dijajarkan menjadi
hidangan utama

angkringan namanya..
HIK terkenalnya

Karya: Tim Mangkring

PANTUN
Jalan-jalan ke rumah pak camat
Buah semangka didalam karung
Jika kamu ingin hidup hemat
Makanlah di hidangan istimewa ala kampung

Kota Bogor kota hujan
Indonesia merdeka bulan Agustus
Bapak Sifaul emang tampan
Jangan segan-segan memberi nilai bagus

Karya: Rasyid


Denah Lokasi Angkringan sekitar UMS